Persiapan IMI Bali Sambut Tuan Rumah Reli Dunia 2026: Infrastruktur Oke

Pulau Dewata kembali bersiap untuk mengukir sejarah baru di kancah otomotif internasional. Tahun 2026 menjadi momentum krusial bagi IMI Bali seiring dengan penetapan wilayah ini sebagai lokasi penyelenggaraan salah satu seri reli paling bergengsi di dunia. Menjadi tuan rumah ajang olahraga motor kelas dunia bukan hanya soal kebanggaan, tetapi juga tentang pembuktian kesiapan teknis dan manajerial. Fokus utama saat ini tertuju pada pemastian bahwa seluruh sarana pendukung telah siap sepenuhnya, dengan slogan utama bahwa kondisi infrastruktur oke untuk menyambut para pembalap papan atas dari berbagai belahan bumi.

Langkah pertama dalam persiapan ini adalah audit dan revitalisasi jalur-jalur yang akan dijadikan lintasan balap. Berbeda dengan balapan sirkuit aspal, lintasan reli menuntut karakteristik jalan yang menantang namun tetap memiliki standar keamanan yang ketat. IMI di wilayah ini bekerja sama dengan pemerintah daerah dan konsultan internasional untuk memetakan rute yang melintasi berbagai lanskap ikonik Bali, mulai dari area pesisir hingga perbukitan yang eksotis. Perbaikan jalan tidak hanya difokuskan pada pengerasan permukaan, tetapi juga pada penguatan bahu jalan dan drainase agar lintasan tetap stabil meskipun terjadi perubahan cuaca yang ekstrem.

Selain lintasan utama, pembangunan area pendukung seperti service park dan pusat media juga menjadi prioritas. Ajang kelas dunia membutuhkan fasilitas yang mampu menampung ribuan personel tim, teknisi, dan jurnalis dari berbagai negara. Pengurus daerah memastikan bahwa infrastruktur telekomunikasi di sekitar area perlombaan sudah mendukung teknologi jaringan berkecepatan tinggi agar proses siaran langsung dan pengiriman data teknis tidak mengalami kendala. Keberadaan fasilitas medis dengan standar internasional di titik-titik strategis juga disiapkan untuk menjamin penanganan cepat jika terjadi insiden di tengah lomba, menunjukkan bahwa aspek keselamatan adalah prioritas yang tak bisa ditawar.

Persiapan infrastruktur ini juga sangat memperhatikan aspek kelestarian lingkungan dan budaya lokal. Bali sebagai destinasi wisata dunia memiliki regulasi yang ketat mengenai penggunaan lahan. Oleh karena itu, pembangunan fasilitas tambahan dilakukan dengan konsep semi-permanen atau menggunakan material yang ramah lingkungan. Tim penyelenggara melakukan koordinasi intensif dengan tokoh adat dan masyarakat di sekitar lintasan untuk memastikan bahwa kegiatan internasional ini tidak mengganggu aktivitas harian warga. Bahkan, beberapa rute dipilih sedemikian rupa agar dapat mempromosikan destinasi Tuan Rumah yang selama ini belum banyak tersentuh oleh wisatawan mancanegara.